Bulan


Saat aku bertanya tentang bulan, semuanya menjawab, "Ya, aku mengenal bulan". Semuanya bercerita tentang bulan yang kuning keemasan dan bersinar syahdu menggantikan lampu. Satu hal yang ku tahu, saat matahari sedang bersinar sendiri dan tanpa membagi sinarnya pada bulan, bulan sebenarnya sendirian dan mungkin sedih di dalam kegelapan.

Ya, memang benar bulan itu kuning keemasan. Itulah saat bulan menyinarkan kebahagiaannya, kala ia mendapat pantulan dari matahari. Ia menutupi bagian dirinya yang gelap gulita saat sendirian.
Saat tanpa sinar matahari, bulan redup bahkan tak bercahaya. Di ruang lepas tanpa atmosfer yang jelas, bulan sendirian. Saat malam dan sedang sendirian, aku menatap bulan. Cerita kesendirian telah kubagi padanya saat ia muncul -kecuali saat malam berkabut.
Meski dengan satu per delapan bagian atau penuh sepenuhnya, bulan muncul dan berbagi kebahagiannya sahaja kepada ku. Ternyata ia sama sekali tidak kesepian! Lalu, aku malu dan berhenti mengeluh. Bulan tidak retak, tetap berputar pada porosnya saat ku kira ia kesepian. Bulan dalam kegelapan adalah saat Dia menjaganya dari sinar yang terlalu terang, untuk perbaikan dirinya.
Kala tiba waktu matahari memantulkan sinar -dengan masih dalam keadaan gelap, bulan bergembira. Ia gembira meski di dalam kegelapan. Bulan selalu merayakannya tanpa mengingat kesedihan. Ia memukau mata manusia dan mengajak lumba-lumpa di laut lepas untuk menari dalam air pasang. Sinarnya kelemayar.
Solo, 28 Januari 17
______________________
Terima kasih bulan,
Atas sebagai teman berbagi,
MengingatNya kembali,
Mencintai diri sendiri,
dan mengerti bahwa dalam sendirian tak seharusnya muncul rasa kesepian, apalagi dala
m keramaian.
Bukankah, dunia ini ramai?

Komentar

Postingan Populer