Di Balik Sosok Kriapur Sang Sastrawan Muda
Tatapan mata sayu Ningsih (78) membuka percakapan tentang satu himpunan kenangan almarhum Kriapur putranya yang merupakan salah satu sastrawan unggulan kota Solo pada era tahun 1980. Karya Kriapur terkenal di kalangan penikmat sastra majalah Horison dan beberapa buletin sastra di Solo. Tak tanggung-tanggung, Dewan Kesenian Jakarta pun menerbitkan satu buku biografi sang legendaris muda.
Ketika saya berkunjung ke kediamannya, Jagalan (19/10) Ningsih banyak berbagi cerita tentang anak dan keluarga kecilnya yang harus pergi dua puluh tahun silam.
“Kok ya aku ditinggal, ndak diajak sekalian,” tuturnya lirih sambil meneteskan air mata. Kerinduan akan anak dan suami yang mendalam membuatnya meneteskan air mata. Sambil mengelus hangat punggung Ningsih, saya menyimak tuturan kronologi peristiwa kematian anak serta suaminya dalam satu kecelakaan mobil. Kecelakaan tersebut terjadi di Batang dan menewaskan dua orang tercintanya serta satu supir yang mengantar keduanya pada satu perlombaan sastra. Mobil naas yang mereka tumpangi tergelincir dari jalan raya dan masuk ke jurang hingga akhirnya teronggok di sebuah sungai.
“Anak itu seperti tahu apapun yang akan terjadi. Puisinya ada yang judulnya ‘Kupahat Mayatku di Air’ lha terus kok ya jasatnya ada di air,” tutur Ningsih. Menurut Ningsih, putranya memiliki perasaan firasat batin yang kuat. Kini terhitung sudah 20 tahun Ningsih tinggal sendirian di rumahnya yang relatif berukuran besar. Ningsih hanya menempati bagian belakang rumahnya. Ruang tamu rumah itu sudah tidak layak pakai, atap bagian dalam ruangan itu roboh dan kayunya berserakan di lantai. Meskipun ia susah untuk berjalan sekadar menyapu lantai rumahnya, bagian pojok rumah yang ditinggali Ningsih tetap tertata dengan rapi dan teratur sebagaimana mestinya sebuah rumah.
Bagian sisi rumah lainnya ditempati oleh empat orang penghuni kos yang telah sejak dulu dikelola Ningsih. Hanya empat orang itulah yang menjadi teman hidup bagi Ningsih meskipun terpisah rumah dengannya pula. Ningsih bercerita suatu saat ia pernah jatuh saat mencuci piring, dengan teriakan yang masih saja lirih, ia memanggil penghuni kos di dekat rumahnya tersebut dan berharap bisa berdiri kembali berkat pertolongan mereka.
Beruntung Ningsih memiliki satu adik kandung, Warno (72) yang masih sering menjenguknya. Saya sempat berbincang dengan paman almarhum sesaat sebelum menghadiri acara Mengenang Kriapur yang dilaksanakan oleh Himpunan Kemasindo Prodi Sastra Indonesia Universitas Negeri Sebelas Maret. Acara tersebut dilaksanakan di Argo Budoyo UNS pada tanggal 21 Oktober 2016.
“Ya beginilah keadaan Mbakyu saya. Di hari tuanya tinggal sendirian, hanya ditemani yang ngekos saja,” ungkap Warno. Warno yang lebih muda meskipun juga sudah renta menghadiri acara Mengenang Kriapur tersebut. Ungkapan rasa rindu dan kehilangan sosok keponakan juga diungkapkan oleh Warno saat dirinya diberi kesempatan untuk berpidato di atas panggung Argo Budoyo.
“Saya masih ingat ketika dulu saya diajak keponakan saya menonton pentas pembacaan puisi di area Kraton Solo. Puisinya ‘rumah megah kepompong, kosong melompong’. Sekarang rumah keluarganya yang besar pun kosong, melompong hanya ditinggali oleh Mbakyu saya,” kenangnya. Sosok Kriapur yang dikenang oleh Kemasindo malam itu menguak pula cerita bagaimana seorang ibu harus kehilangan nahkoda dan buah hatinya.
Puncak gemilau karir Kriapur yang sedang manis-manisnya harus berakhir di usia muda. Kisah akhir hidupnya kini menyisakan pilunya Ningsih, ibu dan surga almarhum Kriapur yang masih bertahan dalam kesendirian hingga usia senjanya.


Komentar
Posting Komentar
Add your comment!