Cerpendekbanget: Hangat


Sabtu itu menjadi bagian istimewa dalam umurnya yang masih muda. Sangat jarang dilakukannya di masa awal pubernya: berdandan di malam Minggu dan pergi berkencan.

Dalam mandinya sore itu ia sudah merasakan banyak kupu-kupu dalam perutnya.
"Ugh! Butterflies in my tummy," keluhnya. Perutnya selalu mendadak menjadi rumah bagi ribuan kupu-kupu --yang suka menggelitiki perut- ketika ia naik bianglala, ketika punya rencana berpiknik dan rencana menyenangkan lainnya.

Kini --masih bersama kupu-kupu di dalam perutnya- ia terdiam di depan almari kamarnya. Tak lama kemudian dengan gerakan tangan yang sedikit panik, ia membolak-balikkan hanger baju di almari.

"Okay, I can do this," gumamnya percaya diri. Dengan beberapa menit mematutkan diri, kini dress berwarna biru pastel berhasil membalut tubuh mungilnya. Sentuhan flatshoes hitam dengan satu pasang pita di tengah toe-nya membuatnya siap melangkah turun ke ruang tamu.

***

Beberapa tetes air hujan menempel di kaca mobil. Sambil menikmati kemacetan jalan, seseorang di sampingnya berkata dalam keheningan, "Duh, macet.. kamu sudah lapar belum?"

"Emm.. dikit, kamu?" jawab gadis itu sambil mengalihkan pandangannya ke arah suara sambil merona pipinya.

"Di depan situ ada toko roti, nanti kita bisa berenti disitu beli roti dulu buat dimakan sambil macet-macetan ya, hehe, " sambil nyengir lelaki itu berkata.

Lelaki itu menyalakan lampu sein arah kiri. Di depan sebuah apotek pun ia parkir. Keluarlah ia berbaur dengan tetes hujan. Di luar, gerimis hujan bisa membuat punggung orang basah dengan rintikannya yang gemulai. Toko roti ada di seberang jalan. Jalanan macet dipenuhi kendaraan yang hendak memenuhi tujuan masing-masing.

Gadis itu bergumam di dalam hati, hujan di luar pasti terasa dingin. Membayangkan hawanya saja bisa membuat bulu kuduk menegak. Ia memperhatikan sekitarnya. Di ujung sudut toko roti itu, terlihat sepasang manusia yang lanjut usia sedang bersandaran dan saling menghangatkan.

Ia memandangi baju hem bagian punggung lelaki itu basah terkena hujan. Ia juga memakukan pandangannya pada sepasang paruh baya di ujung toko roti yang dituju lelaki idamannya.

Setelah terpaku sebentar, ia rasa hangatnya cengkrama pasangan paruh baya di ujung sana, sama hangatnya seperti ketika lelaki yang tadi duduk di sampingnya kini beranjak berdiri menyeberangi jalan dan bilang kepadanya, "Masih hujan nanti basah, kamu tunggu sini aja ya bentar.."

Kata-kata itu sungguh hangat. Tanpa perlu rengkuhan tangan seperti pasangan oma opa yang telah berhak di seberang sana. Lelaki itu pun masuk ke toko roti, meraih beberapa roti hangat untuk dibawa menyeberangi jalan lagi, menujunya yang menunggu di seberang jalan.

Gadis itu menunggu kehangatan yang terpancar dari perhatian dan kasih sayang, bukan dari rengkuhan tangan yang belum menjadi sebuah hak untuk kedua-duanya. Maka, dalam kemacetan jalan dan hujan, selanjutnya mereka bercanda tawa dalam bahagia yang sederhana hanya atas nama cinta dan kasih sayang.

Heeehe.

Komentar

Postingan Populer