Daging Berabu
Abu-abu berterbangan
Daun pucuk teh berterbangan
Sekepal tangan penuh kuasa memetikDaun pucuk teh berterbangan
Tanpa mengajikan hijau ranum permukaannya
Dan sepagi-paginya ia membuka mata pagi ini
Menyapa embun yang dibawa kabut, menguapkan kesegaran
Daun itu tetap jatuh
Terpisah dari dedaunan lain
Terpisah juga abu-abu
Terbang kesana kemari
Melupakan onggokan daging
Onggokan yang mana?
Ah, dia lupa
Abu-abu berterbangan
Meninggalkan onggokan daging
Daging yang membusuk lebih dari tiga hari
Daging yang kemarin tertancap mur dan besi-besi
Mengapa dagingnya begitu pasrah?
Karena pasrah pula jiwa yang bersemayam
Meraupkan berkahnya pada kematian
Meraupkan pula besi-besi yang ditumpanginya
Dan berujung sama pada kesakitan
Melupakan onggokan daging
Onggokan yang mana?
Yang kemarin menerpa jalan layang
Meninggalkan onggokan daging
Daging yang membusuk lebih dari tiga hari
Daging yang kemarin tertancap mur dan besi-besi
Mengapa dagingnya begitu pasrah?
Karena pasrah pula jiwa yang bersemayam
Meraupkan berkahnya pada kematian
Meraupkan pula besi-besi yang ditumpanginya
Dan berujung sama pada kesakitan
Melupakan onggokan daging
Onggokan yang mana?
Yang kemarin menerpa jalan layang
-Ltfh.
***
Puisi ini berbicara tentang gelora jiwa muda yang memang seperti orangtua dan kebijakan-kabijakan berkata: belum punya praduga. Praduga di sini dipahamkan sebagai pemikiran tentang apa yang akan terjadi, apa yang akan dilakukan dan apa yang harus dipertanggungjawabkan. Manusia muda dengan banyak tenaga dan semagat yang membara terkadang hanya membuka jalan pikirannya hanya tertuju pada nafsu dan keinginannya. Puisi ini mengumpamakan manusia muda sebagai pucuk daun teh yang ranum, segar dan siap olah untuk menjadi produk teh unggulan. Pucuk daun teh yang ranum memang bisa saja menjadi seduhan yang hangat dan nimat bersama udara gunung yang sejuk namun apabila kuasaNya telah berkata, jangan harap pucuk daun teh ranum itu masih punya daya. Jangan sampai daya yang telah menjadi anugerah pemberianNya, hanya berakhir sebagai abu diantara onggokan dagingmu akibat perbuatanmu sendiri yang tanpa praduga. Semoga kita menjadi pemuda yang dengan bijak bisa tumbuh menjadi lebih bijaksana.
***
Puisi ini berbicara tentang gelora jiwa muda yang memang seperti orangtua dan kebijakan-kabijakan berkata: belum punya praduga. Praduga di sini dipahamkan sebagai pemikiran tentang apa yang akan terjadi, apa yang akan dilakukan dan apa yang harus dipertanggungjawabkan. Manusia muda dengan banyak tenaga dan semagat yang membara terkadang hanya membuka jalan pikirannya hanya tertuju pada nafsu dan keinginannya. Puisi ini mengumpamakan manusia muda sebagai pucuk daun teh yang ranum, segar dan siap olah untuk menjadi produk teh unggulan. Pucuk daun teh yang ranum memang bisa saja menjadi seduhan yang hangat dan nimat bersama udara gunung yang sejuk namun apabila kuasaNya telah berkata, jangan harap pucuk daun teh ranum itu masih punya daya. Jangan sampai daya yang telah menjadi anugerah pemberianNya, hanya berakhir sebagai abu diantara onggokan dagingmu akibat perbuatanmu sendiri yang tanpa praduga. Semoga kita menjadi pemuda yang dengan bijak bisa tumbuh menjadi lebih bijaksana.


Komentar
Posting Komentar
Add your comment!